Remontada Harus Dirayakan, tapi Tidak Boleh Terus Diromantisasi
Kemenangan dari ketertinggalan memang indah. Tapi tim juara tidak bisa terus bergantung pada keajaiban babak kedua.

Saya ikut berdiri ketika gol kemenangan itu lahir. Tribun bergetar, orang asing saling peluk, dan untuk beberapa menit semua masalah di luar stadion terasa jauh.
Tapi setelah euforia reda, ada pertanyaan yang perlu diajukan. Kenapa kita harus tertinggal dulu sebelum bermain sungguh-sungguh?
Keajaiban bukan rencana
Tim juara menang karena rencana, bukan karena keajaiban yang datang tiap pekan. Remontada adalah bonus, bukan identitas.
Bobotoh berhak menuntut babak pertama yang sama tajamnya dengan babak kedua. Itu bukan sikap tidak bersyukur. Itu cara mencintai yang dewasa.



Komentar bobotoh
2 komentarMasuk untuk berkomentar
Setuju. Babak pertama sering terlalu santai.
Remontada itu bumbu, bukan menu utama. Tulisan bagus.